Pada
nuansa mudik tahun ini alhamdulilah saya beserta keluarga melaksanakan tradisi
mudik ini. Kira-kira empat hari sebelum lebaran tiba saya beserta keluarga
bersiap-siap mempacking barang-barang yang akan dibawa untuk mudik. Saya
berencana berangkat dari kediaman malam hari. Karena sepeti tahun-tahun yang
lalu, bila kita berangkat siang hari kita akan terjebak macet dan banyaknya
pemudik menggunakan sepeda motor menjadi pemikiran saya untuk berangkat pada
malam hari.
Kira-kira
pukul 20.30 setelah sholat Tarawih saya berangkat dari kediaman saya, pada saat
itu saya melaksanakan tradisi mudik ini dengan menggunakan mobil. Dan tujuan
mudik saya saat ini adalah kota Semarang yang lebih khususnya kota Ambarawa.
Jarak dari Jakarta sampai Semarang kira-kira mencapai 400km lebih, dan dalam
waktu lebaran ini biasanya dapat ditempuh dengan waktu 12 jam. Setelah saya
berangkat dari kediaman saya tanpa terasa mobil melaju dengan kecepatan
120km/jam didalam jalan bebas hambatan(Tol) menuju ke pintu gerbang Tol
Cikampek. Saya memperkirakan akan terjadi kemacetan disekitar pintu gerbang
Tol. Karena empat hari sebelum lebaran berbarengan dengan libur cuti para
pegawai.
Ternyata
saya salah memperkirakan 10km menuju gerbang Tol, masih terlihat ramai lancar
belum terlihat terjadinya kemacetan. Begitu juga 5km menuju gerbang tol masih
belum terjadi penumpukan kendaraan hanya ramai lancar . Dan Alhamdulillah saya
hanya terkena macet di 2km sebelum gerbang Tol. Berati saya hanya terkena macet
sekitar 30menit di Tol Cikampek .
Setelah
melewati gerbang Tol Cikampek saya langsung membanting setir ke arah kiri
menuju Cirebon. Sempat terjadi pengalihan arah, tapi itu tidak terasa, karena
memang volume kendaraan pada saat itu sangat sedikit. Tidak tampak ramai
seperti yang saya perkirakan. Begitu juga para pemudik yang menggunakan sepeda
motor, masih terlihat sedikit sekali. Dengan sedikitnya volume kendaraan saya
bisa memacu mobil saya dengan nyaman.
Cirebon-pun
terlewati jarak menuju kota Semarang semakin dekat. Selama perjalanan belum
menemukan macet yang memakan waktu lama. Paling-paling kemacetan hanya terjadi
karena adanya pasar tumpah yang hanya memakan waktu sekitar 15menit untuk
melewatinya . Tanpa terasa jam sudah menunjukan pukul 04.00 dan tujuanpun
hampir sampai. Kira-kira tinggal 30menit saya di kampung halaman saya yang
pertama yaitu Ambarawa. Kurang lebih jam 04.45 saya berserta keluarga sampai
juga dikampung halaman . perjalanan ke semarangpun terasa cepat karena kita
tidak terkena macet selama perjalanan sepertinya prediksi arus puncak akan
terjadi esok hari , Sesampainya disana saya beserta keluarga langsung disambut
hangat dengan keluarga-keluarga saya yang lain. Nuansa “Jawa” langsung terasa
kental sekali, dengan bahasa dan logat yang jawa sekali, sampai-sampai
keramahan-keramahan yang dibelikan sangat kental sekali terasa.
Setelah
bertegur sapa dengan sanak saudara di Ambarawa, waktunya untuk beristirahat melepas
keletihan selama sepuluh jam diperjalanan tadi. Setelah beristirahat, siang
harinya saya beserta keluarga disambut dengan makanan khas Ambarawa yang
katanya “Tahu Campur” tapi saya juga tidak begitu paham saya akan
mendeskripsikan sedikit tentang tahu campur . Tahu Campur adalah salah satu
makanan khas asal Ambarawa, disebut tahu campur karena memang isi pokonya
adalah tahu. Isi dari tahu campur tersebut adalah tahu, tempe, bakwan, dan
lontong. Dan bumbunya atau kuahnya entah apa racikan yang dibuat tetapi kental
terasa sekali kalo bumbu dasarnya adalah kacang.
Makan siang
beserta keluarga besarpun selesai, saya beserta keluarga merencanakan “kapan
kita berangkat ke pacitan?”.
Pacitan
adalah kota yang berada didaerah Jawa Timur, yang sangat terkenal sekali dengan
sebutan “Kota Seribu Goa”, dan juga pacitan terkenal dengan keindahan
pantainya. Pacitan adalah tujuan mudik saya berikutnya. Tidak berlama-lama di
Ambarawa, kira-kira satu hari bermalam di Ambarawa saya beserta keluarga
langsung berangkat menuju Pacitan, karena orang tua saya menginginkan melakukan
sholat Idul Fitri di Pacitan tersebut.
Perjalanan
dimulai sekitar jam delapan siang, entah berapa jarak yang ditempuh dari
Ambarawa sampai ke Pacitan, tetapi menurut pengalaman dari tahun-tahun yang
lalu perjalanan dari Ambarawa menuju Pacitan memakan waktu kira-kira 7-9 jam.
Cepat cerita saya sudah di daerah Wonogiri tandanya perjalanan ekstrim akan
segera dimulai .
Kenapa disebut perjalanan ekstrim? Karena
mulai dari Wonogiri medan perjalanan mulai berkelok-kelok dan naik-turun
menjelajah perbukitan dan pergunungan. Yang membuat “Autis” selama perjalanan
menuju pacitan adalah tidak adanya sinyal pada HP saya. Bukan salah HP saya,
melainkan memang disana belum terjangkau sinyal-sinyal HP. Sungguh membuat kaum
pemuda-pemuda yang terbiasa membuat hidup dikota-kota besar menjadi “autis”
setelah memasuki wilayah ini. Cepat cerita sinyal HP udah tidak dapat dan saya
sudah tiba di tempat tujuan.
Oiya..
sekilas cerita perkampunyan saya terletak benar-benar didalam pegunungan dan
yang membuat makin terasa bawah itu adalah sebuah “perkampungan” adalah lokasi
yang benar-benar diapit oleh kedua gunung yang saling berhadapan. Bayangkan
bagaimana sinyal-sinyal bisa masuk kalau tertutup oleh dua gunung.
Lanjut
cerita setiba sapa dikampung halaman ibu saya langsung berjalan menuju nenek
saya dan “sungkem” ke nenek saya. Setelah “sungkem” saya langsung menuju ke
saudara-saudara yang lain untuk bersilahturahmi. Lagi-lagi sangat terasa kental
sekali nuasa “jawa” yang didapat. Cara penyambutan, cara bertegur sapa, cara
mengobrol, dan yang membuat saya berfikir mereka saling mengenal tetangga yang
satu dengan tetangga yang lain, padahal jarak mereka bisa sampai 1km, 2km,
bahkan sampai 1gunung. Bayangkan kekerabatan yang sangat kental bukan?.
Meskipun
disana saya sangat merasa “autis” karena tidak bisa SMS atau telepon ke
teman-teman saya. Tapi saya merasakan nuansa yang sangat berbeda sekali dari
kehidupan di kota Jakarta. Nuasa yang saya bilang berbeda adalah suasana disana
benar-benar sangat indah, sangat sejuk udaranya, dan dipagi hari masih banyak
terdengar kicau-kicau suara burung dan masih banyak lagi keindahan-keindahan
yang tidak didapat dikota Jakarta.
Cepat
cerita telah tiba waktu Idul Fitri, waktu dimana kita saling memaaf-maafkan
kesalahan yang telah kita perbuat, baik yang disengaja maupun tidak sisengaja.
Lebaranpun dimulai berkeliling-keliling kerumah saudara-saudara.
Setelah
berlebaran dengan keluarga besar kami sekeluarga melanjutkan perjalanan ke solo
kota dimana orang-orangnya begitu ramah dan sopan di kota solo kami sekeluarga
ingin menghadiri acara
“ Ngunduh Mantu
“ anak dari rekan kerja papah saya . perjalanan dari pacitan menuju solo ya
begitu lumayan saya kurang tau jarak tempuh dan waktu tempuh ke sana .
Singkat cerita saya sudah tiba di
solo dan langsung memasuki penginapan yang berada di sekitaran jl.Adisumarmo
hanya itu yang saya tau dan untuk ke alun-alun surakarta dapat di tempuh dengan
naik mobil sekitar 15 – 20 menit . di alun-alun surakarta suasana malam minggu
begitu ramai banyak pengunjung lokal ataupun para pemudik yang berasal dari
jakarta kumpul disana .Para muda mudi anak solo atau biasa di sapa dengan “ cah
solo “ sangat ramah dan bersahabat sehingga tidak ada rasa canggung antar
sesama .
Keesokan paginya giliran keluarga
saya mengajak untuk masuk ke dalam kraton surakarta , ada keunikan kali ini
yang di terapkan pemerintah , agar kita memakai kain batik apabila ingin masuk
ke dalam lingkungan kraton mungki biar lebih mengenalkan batik pada turis
mancanegara kali ya . di dalam kraton memang suasana cukap tenang dan banyak
pusaka-pusaka .
Di solo pun saya
banyak pergi-pergi ke taman-taman yang ada di sekitar solo kalau kata kawan
saya taman yang akan kita sambangi itu taman bale kembangan menurut saya
suasana di sana bagus juga untuk bersantai .
Singkat cerita pada hari esoknya
kami sekeluarga pergi ke candi borobudur dimana candi borobudur sudah masuk ke
dalam salah satu keajaiban dunia . kita patut bangga karena tidak ada lagi
candi yang sebesar dan semegah candi borobudur di dunia hanya ada di indonesia
kita wajib bangga kawan .
Pemandangan dari
atas candi ke sekitar dan sekelilingnya pun begitu indah dan sejuk di pandang
apalagi kalau dari atas akan terlihat jelas pegunungan-pegunungan yang berada
di sekitar candi akan terlihat sejuk dan indah
Yang
uniknya lagi kalau di candi bororbudur ada sebuah mitos katanya barang siapa
yang dapat memegang perut , tumit , pusar patung yang berada di dalam stupa di
lantai 3 akan terkabul semua keinginan dan katanya mendapat berkah . itu
informasi yang saya dapatkan dari orang-orang sekitar
Dan
esok harinya acara pernikahannya pun dimulai ada yang unik dari pernikahan di
jawa .
Yang unik dari pernikahan di jawa yaitu kita
makan itu tidak mengambil sendirai melainkan kita di layani oleh anak-anak muda
yang ada di sekitar rumah dan juga proses makannya pun tidak prasmanant yang
biasa terjadi di jakarta malainkan terdapat 3 prosesi santapan yang pertama itu
kita akan di suguhi minuman biasanya itu minum teh dan , kuenya itu hanya 3
jenis saya lupa apa itu nama kuenya yang kedua kita akan di hidangkan sepiring
sup ayam yang akan di layani oleh anak-anak muda jadi kita hanya duduk saja di
kursi tamu yang ke tiga ini adalah acara puncak dan selesai kita akan di suguhi
nasi .
Liburan
selesai saya bersiap-siap untuk pulang ke rumah saya di Jakarta. Setelah
selesai mempacking barang, saya langsung berangkat pulang dengan cepat. Setelah
diperjalanan sebelum langsung pulang menuju Jakarta saya menyempatkan kembali
singgah di Ambarawa, sekedar beristirahat beberapa jam dan langsung melanjutkan
lagi pejalanan pulang. Dan diperjalanan tidak terjadi kemacetan yang berarti.
Setelah menempuh perjalanan yang panjang Alhamdulillah akhirnya sampai dirumah
tercinta
.
.



No comments:
Post a Comment