TENGGELAMNYA
KAPAL VAN DER WIJCK
Pengarang : Hamka
Penerbit :
Bulan Bintang
Tebal
Buku : 226
Harga
Buku : Rp. 35.000
Tokoh : zainuddin , hayati , muluk ,chadijjah , aziz
Amanat : walaupun cinta di tolak kita harus
membuktikan bahwa kita bisa lebih baik dari seseorang yang di pilih oleh wanita
yang kita suka dan jangan gegabah dalam mengambil keputusan yang di dasari akan
rasa amarah karena dapat merusak hidup
kita sendiri .
Roman yang
dikarang oleh Prof. Dr. Hamka ini diterbitkan tahun 1939. Roman ini
menceritakan tentang dua muda-mudi yang menjalin cinta yang tak kesampaian
disebabkan karena perbedaan suku sehingga berakhir dengan kematian. Jalan
ceritanya dilatar belakangi dengan peraturan-peraturan adat pusaka yang kokoh
dan kuat dalam suatu negeri yang bersuku dan berlembaga, barkaum kerabat dan
berninik mamak.
Cerita ini
bermula dari kisah pertengkaran antara pendekar Sutan dengan mamaknya yaitu
Datuk Mantari Labih yang memperebutkan warisan harta peninggalan ibunya.
Akhirnya terjadi pembunuhan yang dilakukan pendekar Sutan terhadap Datuk
Mantari Labih sehingga ia ditangkap dan dibuang ke Cilacap selama 12 tahun.
Setelah ia bebas, ia tinggal di Minangkabau dan akhirnya kawin dengan Daeng
Habibah dan memperoleh anak, dialah Zainuddin.
Setelah
beberapa lama kemudian ibunya Zainuddin meninggal dunia dan kemudian ayahnya
menyusul. Zainuddin dititipkan pada mamaknya yaitu Mak Base. Lama kelamaan
Zainuddin ingin pergi ketanah airnya yaitu di Minagkabau dan ingin mengambil
harta warisan ayahnya. Tetapi disana ia tidak dikenali oleh siapapun, sehingga
ia menderita. Hanya seseorang perempuan muda yang mau mendengarkan ceritanya,
menumpahkan segala perasaannya dan dialah Hayati . Hayati adalah anak orang
terpandang di Minagkabau.
Dia merupakan
wanita idaman Zainuddin, dengan kelembutan hatinya yang membuat Zainuddin
semakin mencintainya. Sedangkan mamak Hayati tidak merestui hubungan cinta
antara Hayati dan Zainuddin.
Untuk menjaga
nama baik kedua orang tua dan keluarga mereka masing-masing, Zainuddin disuruh
meninggalkan Batipuh oleh mamak Hayati. Dengan berat hati Zainuddin
meninggalkan Batipuh menuju Padang Panjang. Di tengah jalan Hayati menemuinya
dan mengatakan bahwa cintanya hanya untuk Zainuddin.
Zainuddin
menerima kabar bahwa Hajati akan pergi ke Padang Panjang untuk melihat pacuan
kuda atas undangan sahabat Hayati yang bemama Chadidjah. Zainuddin hanya dapat
bertemu pandang di tempat itu karena bersama orang banyak ia terusir dari pagar
tribune. Pertemuan yang sekejap itu membuat Hayati mendapat ejekan dari
Chadidjah. Chadidjah sendiri sebenamya bermaksud menjodohkan Hayati dengan
Aziz, kakak Chadidjah sendiri.
Karena merasa
cukup mempunyai kekayaan warisan dari orang tuanya setelah Mak Base meninggal,
Zainuddin mengirim surat lamaran pada Hayati. Ternyata surat Zainuddin
bersamaan dengan lamaran Aziz. Setelah diminta untuk memilih, Hayati memutuskan
memilih Aziz sebagai calon suaminya. Zainuddin kemudian sakit selama dua bulan
karena Hayati menolaknya. Atas bantuan dan nasehat Muluk, anak induk semangnya,
Zainuddin dapat merubah pikirannya. Bersama Muluk, Zainuddin pergi ke Jakarta.
Dengan nama samaran "Z", Zainuddin
kemudian berhasil menjadi pengarang yang amat disukai pembacanya. la mendirikan
perkumpulan tonil "Andalas", dan kehidupannya telah berubah menjadi
orang terpandang karena pekerjaannya. Zainuddin melanjutkan usahanya di
Surabaya dengan mendirikan penerbitan buku-buku.
Karena perkiraan
Aziz dipindahkan ke Surabaya, Hayati pun mengikuti suaminya. Suatu kali, Hayati
mendapat sebuah undangan dari perkumpulan sandiwara yang dipimpin dan
disutradarai oleh Tuan Shabir atau "Z". Karena ajakan Hayati, Aziz
bersedia menonton pertunjukkan itu. Di akhir pertunjukan baru mereka ketahui
bahwa Tuan Shabir atau "Z"adalah Zainuddin.
Hubungan
mereka tetap baik, juga hubungan Zainuddin dengan Aziz. Perkembangan
selanjutnya Aziz dipecat dari tempatnya bekerja karena hutang yang menumpuk dan
harus meninggalkan rumah sewanya karena sudah tiga bulan tidak membayar, bahkan
barang-barangnya disita untuk melunasi hutang. Selama Aziz di Surabaya, ia
telah menunjukkan sifat-sifatnya yang tidak baik. la sering keluar malam
bersama perempuan jalang, berjudi, mabuk-mabukan, serta tak lagi menaruh cinta
pada Hayati. Akibatnya, setelah mereka tidak berumah lagi. Mereka terpaksa
menumpang di rumah Zainuddin.
Setelah
sebulan tinggal serumah, Aziz pergi ke Banyuwangi meninggalkan isterinya
bersama Zainuddin. Sepeninggal Aziz, Zainuddin sendiri pun jarang pulang,
kecuali untuk tidur. Suatu ketika Muluk memberi tahu pada Hayati bahwa
Zainuddin masih mencintainya. Di dalam kamar kerja Zainuddin terdapat gambar
Hayati sebagai bukti bahwa Zainuddin masih mencintainya.
Beberapa hari
kemudian diperoleh kabar bahwa Aziz telah menceraikan Hayati. Aziz meminta
supaya Hayati hidup bersama Zainuddin. Dan kemudian datang pula berita dari
sebuah surat kabar bahwa Aziz telah bunuh diri meminum obat tidur di sebuah
hotel di Banyuwangi.
Hayati meminta
kesediaan Zainuddin untuk menerimanya sebagai apa saja, asalkan ia dapat
bersama-sama serumah dengan Zainuddin. Permintaan itu tidak diterima baik oleh
Zainuddin, ia bahkan amat marah dan tersinggung karena lamarannya dulu pemah
ditolak Hayati, dan sekarang Hayati ingin menjadi isterinya. la tidak dapat
menerima perlakuan Hayati.
Dengan kapal
Van Der Wijck, Hayati pulang atas biaya Zainuddin. Namun Zainuddin kemudian
berpikir lagi bahwa ia sebenamya tidak dapat hidup bahagia tanpa Hayati. Oleh
sebab itulah setelah keberangkatan Hayati ia berniat menyusul Hayati untuk
dijadikan isterinya. Ditengah-tengah perjalanan kapal tersebut tenggelam,
setelah Zainuddin mendengar berita tersebut langsung menuju ke Rumah Sakit,
pada saat itu Hayati diselamatkan oleh penagkap ikan, sesampainya di Rumah
Sakit seorang juru rawat memberi tahu tempat Hayati dirawat. Zainuddin
menyesali kesalahannya setelah melihat selendang berlumuran darah yang
bertuliskan namanya, beberapa saat kemudian Hayati sadar dan menyuruh Zainuddin
untuk membaca dua kalimat syahadat, dan setelah tiga kali kalimat syahadat itu
diucapkan oleh Zainuddin dia menghembuskan nafas terakhir.
Sepeninggalan
Hayati Zainuddin menjadi sakit-sakitan, tidak lama kemudian Zainuddin meninggal
dunia dan dimakamkan dekat pusaran Hayati, dan untuk harta peninggalan
Zainuddin diwariskan kepada Muluk sahabat Zainuddin.






